Sesuai dengan kodratnya bahwa manusia ini diciptakan oleh Allah SWT, tidak ada kesamaan dalam artian berbeda-beda satu sama lainnya, bisa beda agama, beda bangsa, beda suku, beda pendapat, beda budaya, beda jenis kelamin dan lain sebagainya dengan tujuan adalah untuk saling mengenal (lita’arofu). Jika hal itu dipahami dan dimaknai secara mendalam atas perbedaan itu maka, kita akan menemukan keindahan dan kebersamaan, saling mengisi, saling menghormati dan saling menghargai dan memahami satu sama lainnya, sehingga kita akan selalu mendapatkan ridho-Nya.
Antara perbedaan dan persamaan, merupakan dua sisi yang tidak bisa dipisahkan. Perbedaan dan persamaan bagaikan dua sisi mata uang yang saling mengisi, karena jika kita hanya mengambil salah satu sisi, maka akan hilang nilainya alias tidak berlaku lagi. Tetapi disetiap perbedaan itu pasti ada persamaan, dan persamaan itulah yang harus kita tonjolkan dan kita utamakan serta harus dilestarikan untuk mencapai tujuan bersama, baik itu tujuan keluarga, tujuan kelompok, maupun untuk mencapai tujuan masyarakat.
Mengutip pendapat Syafi’i Maarif (mantan ketua PP Muhammadiyah) dalam kick andy beberpa hari yang lalu, beliau mencontohkan sebuah perbedaan (pluralis) yaitu jari tangan yang kita miliki ini tidak ada yang sama alias berbeda-beda. Mengutip pendapat Sintha Nuriyah Amdurrahman Wahid (mantan ibu negara RI) mengatakan , “perbedaan merupakan sunatullah, barang siapa yang tidak mengakui perbedaan maka sama artinya dengan pengingkaran kepada Rosullullah Saw.