Bekerja merupakan salah satu tujuan untuk mencapai cita-cita yang kita inginkan, akan tetapi dalam kenyataannya kita sulit untuk memperoleh pekerjaan yang layak, dalam artian sesuai dengan bidang keilmuan dan keahlian yang kita miliki. Sehingga pekerjaan yang kita laksanakan tidak sesuai dengan keilmuan dan keahlian yang kita miliki sehingga kita perlu belajar lagi sesuai dengan pekerjaan yang kita kerjakan.
Jika pekerjaan itu merupakan sumber utama untuk menghidupi diri, saudara, keluarga dan orang lain yang kita cintai, maka pekerjaan tersebut merupakan mata pencaharian yang syah dan layak yang dapat kita pertanggung jawabkan secara hukum, secara sosial, secara material dan secara moral. Tetapi dalam kenyataannya, sumber utama tersebut tidak mencukupi atau bahkan kurang atau memang keperluan yang dipenuhi lebih besar dari pada penerimaan atau memang perperilaku glamour alias tidak mau menerima apa adanya (dan hanya mau menerima ada apanya), sehingga timbul berbagai macam ide. Jika ide tersebut positif, alhamdulillah, tapi jika ide tersebut negatif, wow…… astaghfirullah.
Jika ide positif yang kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, dalam hal ini untuk memenuhi kebutuhan lahiriah, adalah dengan membuka usaha baru alias mempunyai pekerjaan sampingan, baik itu disamping kiri maupun disamping kanan, sehingga kebutuhan tersebut terpenuhi atau bahkan mungkin tidak pernah terpenuhi dikarenakan kebutuannya seabreg-abreg alias uakeh banget.
Karena kebutuhan tidak pernah terpenuhi, atau terpenuhi tapi masih merasa kurang, maka muncullah ide negatif. Banyak sekali cara negatif yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut sehingga muncullah intrik-intrik atau manipulasi-manipulasi yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Akibat cara negatif tersebut yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan, maka penghasilan tersebut tidak dapat dipertanggung jawabkan, baik secara hukum, secara moral maupun secara sosial. Jika hal tersebut terus dilakukan, maka akan timbullah kecurigaan-kecurigaan yang bisa mengganggu kehidupan dirinya sendiri, keluargannya maupun orang lain yang dicintainya.
Untuk itu muncullah pertanyaan “RELAKAH KITA MEMBERI NAFKAH KEPADA KELUARGA, SAUDARA DAN ORANG-ORANG YANG DICINTAI DENGAN PENGHASILAN YANG TIDAH SYAH…?’
Apakah ini yang namanya “ewes-ewes….?” yang pasti bukan ewes-ewes bablas angine.
Agustus 3, 2010 pukul 6:25 am |
setuju…..!!!!!